FRIDAY BRIEFING11 September 2026

Kemajuan global implementasi rencana aksi AMR.

Rencana nasional perlu diikuti pembiayaan, koordinasi, surveilans, dan pelaksanaan yang konsisten.

↗

Laporan biennial Quadripartite menunjukkan bahwa banyak negara sudah memiliki rencana aksi resistansi antimikroba, tetapi kesenjangan tetap terlihat pada pembiayaan, tata kelola, koordinasi, dan pelaksanaan berkelanjutan.

Temuan ini menegaskan bahwa AMR bukan hanya persoalan penggunaan obat yang tidak tepat. Kemajuan membutuhkan sistem yang menghubungkan layanan kesehatan manusia, kesehatan hewan, pangan, lingkungan, laboratorium, dan pengambil kebijakan.

Pelajaran utama

  • Rencana aksi nasional perlu memiliki target, penanggung jawab, indikator, dan anggaran yang jelas.
  • Surveilans resistansi dan penggunaan antimikroba perlu menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk memperbaiki praktik.
  • Koordinasi lintas sektor harus dipertahankan setelah fase penyusunan rencana selesai.
  • Dimensi lingkungan perlu masuk dalam pencegahan, pengukuran, dan evaluasi AMR.
RELEVANSI UNTUK INDONESIA

Penguatan jejaring laboratorium, standardisasi data, dan pembiayaan lintas sektor dapat menjadi fondasi implementasi AMR di daerah. Ukuran keberhasilan bukan hanya keberadaan dokumen, tetapi apakah data surveilans mengubah keputusan klinis, peternakan, dan kesehatan masyarakat.

Implikasi untuk kerja epidemiologi veteriner

Epidemiolog veteriner berperan dalam merancang surveilans berbasis risiko, membaca pola penggunaan antimikroba, menilai faktor pada rantai produksi, dan menghubungkan hasil laboratorium dengan intervensi yang realistis di lapangan.

Sumber utamaQuadripartite: FAO, UNEP, WHO, dan WOAH, 16 Juli 2026.Laporan biennial kedua implementasi global rencana aksi AMR ↗
← Kembali ke Publikasi