FRIDAY BRIEFING11 September 2026

Panduan WOAH untuk evaluasi vaksin ASF di lapangan.

Vaksinasi perlu dibuktikan manfaatnya, dipantau dampaknya, dan ditempatkan dalam sistem pengendalian penyakit yang utuh.

↗

Panduan WOAH memberikan kerangka untuk merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi uji lapangan vaksin African swine fever (ASF), termasuk pemantauan setelah vaksinasi.

Pesan pentingnya adalah bahwa keputusan vaksinasi tidak berhenti pada ketersediaan produk. Otoritas perlu menilai kondisi lokal, cakupan, efektivitas, keamanan, biosekuriti, pergerakan hewan, dan mutu surveilans secara bersamaan.

Pelajaran utama

  • Evaluasi lapangan perlu memiliki desain yang dapat menjawab manfaat dan risiko pada kondisi nyata.
  • Indikator cakupan dan efektivitas harus dipantau setelah vaksinasi, bukan hanya saat program dimulai.
  • Vaksinasi harus berjalan bersama biosekuriti, pengendalian pergerakan, pelaporan, dan investigasi kasus.
  • Keputusan program perlu disesuaikan dengan epidemiologi lokal dan kapasitas Veterinary Services.
RELEVANSI UNTUK INDONESIA

Jika vaksin ASF digunakan, kesiapan harus diukur sebagai sistem: registrasi dan pencatatan hewan, surveilans pascavaksinasi, pelaporan kematian, biosekuriti peternakan, serta komunikasi kepada peternak perlu dirancang sejak awal.

Implikasi untuk kerja epidemiologi veteriner

Epidemiologi veteriner membantu memastikan bahwa implementasi vaksin berbasis bukti: populasi sasaran jelas, indikator terukur, sinyal kegagalan dapat dikenali, dan hasil pemantauan kembali digunakan untuk memperbaiki kebijakan.

Sumber utamaWorld Organisation for Animal Health (WOAH), 15 Mei 2026.Guidelines for ASF vaccines: field evaluation and post-vaccination monitoring ↗
← Kembali ke Publikasi