Pada 4 September 2026, World Health Organization (WHO) melaporkan validasi Bhutan sebagai negara pertama di kawasan WHO South-East Asia yang berhasil mengeliminasi rabies yang ditularkan anjing sebagai masalah kesehatan masyarakat.
Capaian ini penting bukan hanya karena hasil akhirnya, tetapi karena menunjukkan bahwa eliminasi rabies membutuhkan investasi yang konsisten dan terkoordinasi dalam jangka panjang. Pengendalian populasi anjing, vaksinasi anjing, surveilans, edukasi masyarakat, serta akses terhadap layanan pascapajanan perlu berjalan sebagai satu rangkaian intervensi.
Pelajaran utama
- Keberhasilan eliminasi memerlukan kepemimpinan dan koordinasi lintas sektor yang berkelanjutan.
- Vaksinasi anjing dan pengelolaan populasi anjing perlu didukung data, cakupan yang memadai, serta keterlibatan masyarakat.
- Surveilans pada hewan dan manusia harus terhubung agar kejadian gigitan, dugaan kasus, investigasi, dan respons dapat ditindaklanjuti secara cepat.
- Layanan post-exposure prophylaxis (PEP) tetap menjadi pengaman penting untuk mencegah kematian setelah pajanan.
Pengalaman Bhutan mengingatkan bahwa target eliminasi rabies tidak cukup ditopang oleh kampanye vaksinasi sesaat. Diperlukan sistem yang menghubungkan otoritas kesehatan hewan dan kesehatan manusia, pembiayaan rutin, pengelolaan populasi anjing yang manusiawi, pelaporan gigitan yang responsif, dan komunikasi risiko yang dapat dipercaya masyarakat.
Implikasi untuk kerja epidemiologi veteriner
Bagi jejaring epidemiologi veteriner, capaian Bhutan dapat dibaca sebagai contoh bagaimana indikator program diterjemahkan menjadi tindakan: cakupan vaksinasi perlu dipantau bersama kualitas data populasi anjing, surveilans harus mampu menemukan sinyal di tingkat komunitas, dan hasil investigasi perlu kembali digunakan untuk memprioritaskan sumber daya.
Pesan utamanya sederhana: eliminasi adalah hasil dari sistem One Health yang bekerja setiap hari, bukan hanya respons ketika terjadi kasus.
